Selasa, 02 November 2010

Penyebab Anak Malas Belajar


Memahami anak sebagai individu yang sedang menjalani tahapan-tahapan dalam masa pertumbuhannya, diperlukan kesabaran ekstra. Demikian pula ketika mendapati anak yang telah memasuki usia sekolah begitu malas belajar. Mengandalkan guru untuk menyelesaikan masalah? Tentu tak bisa begitu.

Apalagi bila kita menyadari bahwa anak sesungguhnya memulai pendidikannya dari rumah. Sehingga, peran orangtua untuk membantu secara langsung kesulitan yang dialami anak merupakan hal yang sangat penting. Mencari penyebabnya adalah langkah awal untuk menerapkan solusi yang tepat.
Robert D. Carpenter MD adalah seorang peneliti yang pernah mengadakan pengamatan terhadap perkembangan belajar murid sekolah dasar di California, Amerika Serikat. Dalam pengamatannya ditemukan adanya penyebab mengapa anak-anak kerap mengalami masalah dalam belajar yang cenderung membuat mereka jadi malas. Berikut ini empat penyebab yang kerap terjadi dan menyebabkan anak malas belajar.

1. Komunikasi tidak efektif
Ingat, target kita berkomunikasi adalah memastikan bahwa ‘pesan’ yang ingin kita sampaikan kepada penerima pesan (anak) diterima dengan benar. Tentu orangtua ingin agar anak mengerti, menyukai dan melakukan apa-apa yang dipikirkan orangtua. Komunikasi yang efektif juga bisa mengungkapkan kehangatan dan kasih sayang orangtua, misalnya, “Ayah bangga sekali, kamu sudah berusaha keras belajar di semester ini.”
Coba ingat-ingat bagaimana pola komunikasi yang kita bangun selama ini. Sudahkah anak-anak menangkap pesan yang kita sampaikan sesuai dengan yang kita maksud?

Seringkali orangtua lupa menyampaikan ‘isi’ dari pesannya, tapi lebih banyak merembet pada hal-hal yang sebenarnya di luar maksud utamanya. Misal, nilai ulangan harian anak di bawah rata-rata teman sekelasnya. Tanpa bertanya terlebih dulu kepada anak kenapa nilainya jelek, Ibu langsung komentar, “Itulah akibatnya kalau kamu nggak nurut Ibu. Main melulu sih. Ibu tuh dulu waktu sekolah nggak pernah dapat nilai 6. Kamu kok nilainya jelek begini. Gimana sih?” Apa inti pesan yang disampaikan Ibu? Anak salah karena nilainya jelek dan semakin salah karena Ibu selalu membandingkan anak dengan keadaan Ibunya sewaktu sekolah. Akibatnya, anak akan berpendapat, “Ah, nggak ada gunanya bilang ke Ibu kalau nilai jelek. Nanti pasti dimarahin.”
Padahal, mengetahui nilai anak yang di bawah rata-rata buat orangtua sangat penting untuk mengevaluasi penyebabnya. “Wah, nilai anak saya untuk mata pelajaran matematika kenapa selalu jelek ya? Apa yang perlu dibantu?” Sederet pertanyaan itu bisa terjawab bila kita berkomunikasi secara efektif, bukan menyalah-nyalahkan anak. Bila penyebab bisa segera diketahui, maka orangtua bisa mencari solusinya dan melakukan perbaikan.

Komunikasi yang tidak efektif yang berjalan selama bertahun-tahun, pastinya akan berdampak negatif pada pembentukan karakter anak. Padahal, salah satu fungsi komunikasi adalah untuk mengenal diri sendiri dan orang lain. Bisa dipastikan pola seperti itu akan membuat anak bingung dalam mengenali dirinya sendiri dan orangtuanya. ‘Apa sih sebenarnya maunya Ayah/Ibu?’ Kebingungan ini mengakibatkan dalam diri anak tidak tumbuh motivasi kuat untuk berprestasi, toh mereka tak tahu apa gunanya mereka belajar.

2. Tak terbantahkan
‘Pokoknya kamu harus ranking satu. Dulu, ayah sekolah jalan kaki, tapi selalu ranking satu. Kenapa kamu nggak bisa?’ Menekankan dengan kalimat, ‘pokoknya’, ‘seharusnya’, dan kata sejenis lainnya menunjukkan tidak adanya celah untuk pilihan lain.
Orangtua yang tak terbantahkan membuat anak sulit mengemukakan pendapatnya. Bahkan, sulit mengetahui potensi dirinya sendiri, apalagi mengoptimalkan potensinya. Kecenderungan tak terbantahkan ini kalau berlanjut terus bisa menjurus pada upaya memaksakan kehendak orangtua pada anak. Misalnya, “Nanti kamu harus jadi dokter.” Kalaupun akhirnya anak mengikuti kehendak orangtuanya kuliah di fakultas kedokteran, ia akan menjalaninya dengan setengah hati. Bisa jadi, hanya setahun dijalani, selanjutnya keluar karena bertentangan dengan keinginannya. Tentu kita tak ingin ini terjadi bukan?

3. Target tidak pas
Target yang tidak pas, bisa terlalu rendah atau terlalu tinggi dari kemampuannya. Jangan sampai memaksakan begitu banyak kegiatan pada seorang anak sehingga mereka jadi jenuh dan terlalu lelah. Akibat overaktivitas, banyak anak yang kemudian mulai meninggalkan belajar sebagai kegiatan yang seharusnya paling utama.
Di sinilah peranan orangtua sangat penting, jangan sampai terlalu memaksa anak dengan harapan agar mereka dapat menuai prestasi sebanyak-banyaknya. Mereka didaftarkan pada berbagai macam kursus atau les privat tanpa mengetahui bahwa batas IQ seorang anak tidak memungkinkannya menerima berbagai macam kegiatan yang disodorkan oleh orangtua.
Namun, sebaliknya bagi anak yang memiliki IQ tinggi, juga perlu penanganan khusus, karena mereka tidak cukup dengan target regular untuk anak lainnya. Mereka membutuhkan tantangan lebih supaya potensinya teroptimalkan. Untuk mengetahui potensi ini, orangtua perlu bantuan psikolog.

4. Aturan dan hukuman yang tidak mendidik
Terlalu ketat dalam rutinitas harian bisa menyebabkan akhirnya anak malas belajar. Namun, sebaliknya tanpa membuat rutinitas harian anak tidak terbiasa memiliki jadwal belajar yang harus dipatuhinya. Jalan tengahnya, rutinitas tidak bisa ditetapkan secara sepihak oleh orangtua, namun dibangun bersama-sama.
Membuat aturan juga harus diikuti dengan konsekuensi. Jadi, anak dapat mengerti apa hubungannya antara kepatuhan menjalani aturan dengan konsekuensinya, bukan sekadar hukuman yang tidak mendidik, seperti hukuman cubitan bila dapat nilai jelek
Bagi anak usia SD ke atas, orangtua perlu mendiskusikannya dengan anak. Aturan tersebut ditandatangani dan dipasang di dekat meja belajar. Misal, 1) Belajar sehabis shalat Maghrib sampai Isya; 2) Boleh nonton Avatar pada minggu pagi; 3) Main PS paling lama 2 jam di hari libur; 4) dan seterusnya. 

Jangan bosan juga untuk meng-up date kesepakatan dan mengingatkan kalau ada yang melanggar. Ingatkan juga akan konsekwensinya, misalnya “Belajar yuk! Kemarin kita sepakat kan kalau nggak belajar, gimana hayo?”
Biarkan anak menjawab konsekwensinya. Jika aturan itu sudah dibuat bersama, pasti anak ingat akan konsekwensinya. Harapannya, kesadaran untuk belajar akan tumbuh dari dalam diri anak, bukan dipaksakan orangtua. Tidak ada lagi hukuman yang tidak mendidik, karena hukuman akan membuat anak berpikir “Ugh, belajar sangat tidak menyenangkan!”
Mewaspadai empat hal tersebut penting untuk mencegah kemalasan anak semakin parah. Yuk, bantu anak-anak kita agar rajin dan senang belajar.

 
kirim komentar anda melalui emai disini

Baca Artikel lengkap >>

Senin, 01 November 2010

Asal Mula Kartu Merah Dalam Sepak Bola


Nicolas Lodeiro jadi pemain pertama yang diberi kartu merah di Piala Dunia 2010. Ia kena hukuman dua kali kartu kuning yang membuatnya diusir wasit ketika timnya, Uruguay, menghadapi Perancis di Grup A yang berakhir dengan skor 0-0. Sedangkan kartu kuning pertama diperoleh Efrain Juarez (Meksiko) pada pembukaan Piala Dunia 2010 melawan tuan rumah Afrika Selatan, juga di Grup A.
Uniknya meski Piala Dunia sudah dimulai sejak tahun 1930, kartu merah-kartu kuning baru diperkenalkan pada penyelenggaraan Piala Dunia 1970 di Meksiko. Yang menarik, meski sudah diperkenalkan hukuman dengan menggunakan kartu itu, pada Piala Dunia 1970 tak satu pun pemain yang mendapatkan kartu merah. Mungkin hukuman itu menakutkan seluruh peserta tim hingga mereka bermain hati-hati. Sedangkan pemain yang pertama mendapat kartu kuning adalah pemain Cile Carlos Caszely pada Piala Dunia 1974 yang diselenggarakan di Jerman.
Piala Dunia juga sempat melahirkan rekor pemberian kartu kuning-kartu merah terbanyak dalam satu pertandingan yaitu pada Piala Dunia 2006 di Jerman. Ketika itu Portugal dan Belanda saling berhadap di babak 16 besar. Begitu kerasnya pertandingan sampai-sampai wasit Valentin Ivanov dari Rusia mengeluarkan 16 kartu kuning dan 4 kartu merah!
Sedangkan di luar Piala Dunia, ada juga catatan rekor lucu di mana seorang pemain bisa kena kartu merah begitu masuk lapangan. Rekor ini dipegang oleh David Pratt (mulai 2008) yang begitu masuk lapangan langsung membuat tackle berat pada lawan. Hal ini membuat wasit memberinya kartu merah. Berapa lama pemain Chippenham Town itu di lapangan sebelum di kartumerah? Cuma tiga (3) detik!
Pencipta Kartu Merah
Kartu merah-kartu kuning ini tidak akan dikenal jika tidak terjadi insiden pada pertandingan Inggris melawan Argentina pada Piala Dunia 1966 di Inggris. Saat itu kedua kesebelasan bertanding di babak perempat final. Wasit yang memimpin adalah Rudolf Kreitlein (Jerman).
Ketika itu aturan pemain yang bermain kasar dan harus dikeluarkan dari lapangan cukup dilakukan dengan pengusiran langsung oleh wasit dengan sejumlah penjelasan.Namun saat wasit Kreilein mengusir pemain Argentina Antonio Rattin yang dianggapnya melakukan pelanggaran berat, pemain itu tetap ngotot bertahan di lapangan. Terjadi saling adu argumen antara wasit Kreilein dan Rattin, namun karena kendala bahasa yang tidak dipahami satu sama lain kejadian itu membuat pertandingan berhenti beberapa menit.
Insiden itu membuat wasit Inggris Ken Aston yang juga menjadi wasit di Piala Dunia 1966 punya ide brilian mengganti penjelasan wasit pada pemain yang melanggar. Ide itu ia dapat saat terjebak lalu-lintas usai memimpin pertandingan. Dari lampu lalu-lintas yang menghadangnya, ia mendapatkan ide hukuman berupa kartu kuning untuk pelanggaran yang bisa ditolerir dan kartu merah untuk pengusiran pemain. Nah ide itu baru diterapkan pada Piala Dunia 1970 di Meksiko.


 
 
kirim komentar anda melalui emai disini

Baca Artikel lengkap >>

Minggu, 31 Oktober 2010

Asal Mula Hallowen Dan Informasi Yang Terkait Dengan Hallowen


>Halloween adalah tradisi perayaan malam tanggal 31 Oktober di negara-negara berpenutur bahasa Inggris, dilakukan anak-anak berpakaian aneh yang berkeliling dari pintu ke pintu rumah tetangga meminta permen atau coklat dengan berkata "Trick or treat!" Ucapan "Trick or treat!" merupakan semacam "ancaman" yang berarti "Beri kami (permen) atau kami jahili." Anak zaman sekarang biasanya tidak lagi menjahili rumah orang yang tidak memberi apa-apa. Sebagian anak-anak masih menjahili rumah orang yang dianggap pelit dengan cara "menghiasi" pohon yang ada di depan rumah dengan kertas toilet atau menulisi jendela dengan sabun.

>Simbol Halloween


Simbol Halloween singkatnya adalah buah labu yang dilubangi menyerupai wajah yang mengerikan. Simbol Halloween lekat dengan keadaan musim gugur dan karakter-karakter komersial dan menyeramkan hasil rekaan pembuat film Amerika dan ahli desain grafis. Simbol Halloween biasanya dekat dengan kematian, keajaiban, dan monster-monster dari dunia mitos. Karakter yang sering dikaitkan dengan Halloween misalnya karakter setan dan iblis dalam kebudayaan Barat, manusia labu, makhluk angkasa luar, tukang sihir, kelelawar, burung hantu, burung gagak, burung bangkai, rumah hantu, kucing hitam, laba-laba, goblin, zombie, mumi, tengkorak, dan manusia serigala. Di Amerika Serikat, simbol Halloween biasanya dekat dengan tokoh dalam film klasik mulai dari Drakula dan monster Frankenstein.


>Makanan Halloween


Di belahan bumi beriklim sejuk, perayaan Halloween berlangsung di musim apel sehingga Candy Apple atau caramel apple (apel yang dicelup ke dalam cairan gula) terkenal sebagai makanan Halloween.


>Perayaan di Amerika Serikat


Bagi anak-anak di Amerika, Halloween berarti kesempatan memakai kostum Halloween dan mendapatkan permen, sedangkan bagi orang dewasa adalah kesempatan berpesta kostum. Bagi pedagang eceran di Amerika, Halloween berada di urutan kedua di bawah hari Natal sebagai perayaan yang paling yang menguntungkan


>Referensi


1. ^ Simpson, John; Weiner, Edmund (1989). Oxford English Dictionary, second, London: Oxford University Press. ISBN 0-19-861186-2.

2. ^ Thompson Smith, Samantha, "Halloween proves profitable for retailers in Raleigh, N.C., and elsewhere.", The News & Observer, 2004-10-19. Diakses pada 2006-09-14.
3. ^ Skal, David J. (2002). Death Makes a Holiday: A Cultural History of Halloween. New York: Bloomsbury, 34. ISBN 1-58234-230-X.
4. ^ (2005). Trick-or-treaters can expect Mom or Dad’s favorites in their bags this year. National Confectioners Association. URL diakses pada 2006-09-14
5. ^ (2005). Fun Facts: Halloween. National Confectioners Association. URL diakses pada 2006-09-14
 
kirim komentar anda melalui emai disini

Baca Artikel lengkap >>

Kata Mereka