Kamis, 25 November 2010

Apa Itu Penyakit Amandel ?




Tonsil/ amandel merupakan organ tubuh yang semula ada gunanya, tetapi sampai pada saat tertentu justru bisa mengganggu kesehatan antara lain bikin sulit menelan, pusing, mengantuk, mengorok.

Tidak heran bila keluhan amandel sering datang terutama pada anak-anak.
Amandel adalah: bagian dari kekebalan tubuh yang terbentuk sejak janin berusia 3 bulan. Amandel berkembang sangat cepat setelah bayi lahir karena bayi sudah berkontak dengan kuman. Pertumbuhan amandel berlangsung cepat di usia 1-3 tahun dan mencapai puncak di umur 3-7 tahun.Pada usia pubertas, sekitar 14 tahun, amandel mulai mengecil dan lama-lama menghilang.

BENTENG PERTAHANAN

Jaringan amandel di sebut limfoid. Amandel memiliki istilah medis tonsila palatina, terdiri atas dua buah yang bentuknya mirip dengan buah amandel, sehingga orang Belanda menamainya amandel.

Sebetulnya ada 2 jaringan yang bertengger di tengorokan. Amndel yang bertugas melawan kuman yang masuk melalui mulut. Jaringan lain yaitu adenoid, letaknya tersembunyi, sehingga tidak kelihatan apabila mulut dibuka lebar. Ia bertugas melawan kuman yang masuk lewat hidung.

Tonsil dan adenoid tumbuh seiring dengan pertambahan usia. Keduanya berkembang pesat setelah bayi lahir karena sudah mulai berinteraksi dengan kuman. Para dokter meyakini adenoid tidak lagi penting setelah anak berusia 3 tahun.
Memang biasanya adenoid mengecil setelah anak berusia 5 tahun. Pada masa pubertas pertumbuhannya berhenti dan akhirnya hilang sama sekali.

Fungsi utama amandel yaitu sebagai benteng pertahanan terdepan terhadap kuman. Fungsi ini didukung oleh lokasi yang strategis ( di bagian atas saluran nafas atau hidung dan makanan atau mulut ), struktur anatominya permukaan luas dan berlekuk ke dalam, serta kemampuannya memproduksi zat antikuman.

SULIT MENELAN

Sebagai perisai tubuh, tonsil dan adenoid dapat mengalami infeksi bakteri/virus. Akibatnya jaringan ini meradang dan membengkok. Peradangan akut pada amandel disebut tonsilitis akut.
Penyebab paling sering radang amandel adalah bakteri streptokokus beta hemolitikus grup A. Bakteri lain yang dapat memicu peradangan amandel seperti Staphylococcus, Pneumococcus, atau Haemofilus influenza. Berbagai virus seperti Rhinovirus, influenzae, dan para influenzae juga bisa menyebabkan amandel membengkak.

Gejala yang muncul bisa bersifat lokal atau setempat, bisa juga gejala umum atau sistemik. Biasanya pasien tonsilitis mengalami gejala flu, batuk, pilek, ( peradangan akut saluran nafas bagian atas ), nyeri tenggorokan dan sakit ketika menelan, kelelahan, serta naiknya suhu badan. Kondisi itu menyebabkan pasien loyo, tidak mau makan dan minum.

AWAS KAMBUH

Untuk mengatasi peradangan amandel, biasanya dokter memberi antibiotika. Obat penurun panas dan pereda batuk pilek diberikan tergantung kondisi pasien.
Dianjurkan mengonsumsi makanan lunak ( bubur), banyak minum, serta cukup istirahat. Dengan penangan tepat, tonsilitis akut akan sembuh dalam 5- 7 hari.
Tonsilitis akut dapat kambuh jika antibiotika tidak memadai atau si pasien bandel tidak menghabiskannya.

Bentuk amandel yang berlekuk-lekuk juga memberi peluang pada bakteri untuk bersembunyi dan kembali beraksi. Jika kambuh peradangan bisa berubah menjadi tonsilitis kronis.
Pada anak-anak proses infeksi ini hampir selalu diikuti oleh infeksi adenoid, sehingga biasa disebut adenotonsilitis kronis. Pada orang dewasa, karena jaringan adenoid telah lenyap, infeksinya disebut tonsilitis kronis.
Jika peradangan dirasa sangat mengganggu, bisa dilakukan operasi amandel. Anggapan bahwa kekabalan tubuh anak akan menurun setelah dioperasi, tidaklah benar. Kekebalan tubuh anak itu akan semakin kuat seiring pertumbuhannya.

DILARANG TERIAK

Amandel yang "tenang" sebaiknya tidak dioperasi. Terutama pada anak usia di bawah 6 tahun.Jika anak sudah memasuki masa puber atau dewasa, diangkat pun tidak ada ruginya. Apalagi jika amandel berwarna keputihan, artinya sudah banyak mengandung bakteri.
Perawatan ekstra diperlukan anak, terutama 12 hari pertama setelah operasi. 2 hari pertama setelah operasi, anak hanya boleh menyantap cairan dingin dan dilarang mengonsumsi makanan keras atau panas.

Menginjak hari ketiga, anak baru boleh mengasup makanan lembut seperti bubur. Setelah hari kelima, anak boleh mengasup aneka makanan. 2 Minggu setelah operasi, anak dilarang berteriak atau melakukan kegiatan yang menguras tenaga.

KOMPLIKASI SAMPAI KE GINJAL

Bila infeksi kronis pada amandel sering kambuh dan tidak ditangani dengan baik, bisa menyebabkan berbagai komplikasi, antara lain:

1. Abses ( membengkak dan terdapat kumpulan nanah ) pada jaringan sekitar amandel, atau disebut abses peritonsil. Biasanya kondisi ini mengenai salah satu amandel saja dan kebanyakan pada orang dewasa.
Gejala yang muncul: rasa sakit yang hebat saat menelan, bahkan menelan air liur saja sulit. Karena itu air liur bisa meleleh keluar disertai panas badan tinggi.
2. Pada anak-anak, sering terjadi infeksi kronis di rongga-rongga di sekitar hidung ( sinus ).Kondisi ini disebut sinusitis.
Gejala yang muncul: pilek terus menerus dalam jangka waktu cukup lama dan anak mudah terserang batuk.
3. Dehidrasi akibat sulit menelan
4. Terhambatnya jalan nafas karena tonsil membengkak
5. Munculnya demam rematik pada jantung pada kuman amandel yang menyebar ke otot dan katup jantung. Penyakit ini biasanya didapati pada kelompok usia 5-15 tahun.
6. Gangguan ginjal. Meski berbagai kondisi beresiko muncul, sebaiknya orangtua tetap tenang bila si kecil sakit radang amandel. Perlu diingat bahwa tidak semua penyakit amandel perlu di operasi. Kalau perlu di operasi, tunggu waktu yang tepat sesuai saran dokter.


MITOS SEPUTAR AMANDEL/TONSIL

* Banyak orangtua merasa keberatan jika anaknya dioperasi amandel

Orangtua takut ketahanan tubuh anak berkurang bila amandel diangkat. Amandel memang berfungsi sebagai perisai tubuh anak terhadap kuman. Namun fungsi amandel hanya optimal hingga anak berusia 12 tahun. Selanjutnya amandel akan mengecil.
Jangan takut, memasuki usia remaja, tubuh sudah memiliki ketahanan yang baik meski tanpa amandel.

*Infeksi amandel membuat anak bodoh/ menghambat IQ

Pendapat ini salah, Anak yang bermasalah dengan amandel akan mudah lelah karena tidak dapat tidur dengan nyenyak dan rentan terhadap penyakit, hingga bisa berpengaruh terhadap kehadirannya di sekolah. Gangguan pada saluran pernafasan akibat amandel juga menyebabkan kurangnya suplai oksigen ke otak, sehingga anak sulit berkonsentrasi. Kenyataan ini membuat orang beranggapan radang amandel membuat anak jadi bodoh.

* Amandel akan membesar kembali setelah operasi

Pendapat ini tidak sepenuhnya benar. Bila amandel telah diangkat dengan baik, seharusnya tidak akan membesar kembali. Memang adenoid bisa saja membesar kembali, tetapi kemungkinannya sangatlah kecil. Kalaupun hal itu terjadi, tidak akan memberikan masalah berarti pada tubuh.
Daripada terjebak mitos, lebih baik orangtua melakukan upaya pencegahan infeksi amandel. Caranya dengan selalu memberikan makanan bergizi, menjaga kebersihan mulut dan kebersihan lingkungan karena semua itu akan berpengaruh baik terhadap daya tahan tubuh anak.


GEJALA-GEJALA AMANDEL

Radang amandel mungkin terjadi jika terdapat gejala-gejala berikut :
- Tenggorokan terasa sakit sekali selama lebih dari 3 hari
- Muncul rasa sakit ketika menelan, air sekalipun
- Demam dan menggigil
- Sakit kepala
- Tonsil bengkak dan berwarna kemerahan
- Nafsu makan hilang
- Kegiatan sehari-hari jadi terganggu
- Terdapat luka bernanah di tonsil
- Teraba adanya pembengkakan kelenjar di bawah rahang dan leher

KAPAN HARUS OPERASI?

Tidak sedikit orangtua yang merasa cemas bila anaknya menderita radang amandel ( tonsilitis) dan dokter menyarankan tindakan operasi.Sebaliknya ada pula orangtua yang mengharapkan anaknya boleh menjalani operasi pengangkatan tonsil, padahal tidak terjadi masalah sama sekali. Keinginan itu didasari anggapan bahwa jika amandel diangkat berarti tidak ada lagi resiko mengalami peradangan.
Tentu saja tidak semudah itu dokter menentukan perlu tidaknya tindakan operasi diambil. Ada 2 kelompok kriteria yaitu yang bersifat absolut dan bersifat relatif ( dipertimbangkan ), untuk menentukan dilakukannya operasi amandel ( tonsilektomi ).

KRITERIA ABSOLUT :
1. Bila pembesaran sudah menimbulkan obstruksi/ hambatan jalan pada saluran pernafasan yang cukup parah, gangguan tidur ( sleep apnea ), atau ada komplikasi kardiopulmuner akibat penyebaran infeksi bakteri.
2. Adanya peritonsiler abses yang tidak dapat diatasi dengan obat dan drainase ( pengambilan cairan abses).
3. Timbulnya kejang demam
4. Kondisi tonsil yang parah hingga memerlukan tindakan biopsi untuk menentukan kondisi jaringan

KRITERIA RELATIF:
1. Frekwensi serangan infeksi pada tonsil yang sering. Serangan infeksi bisa mencapai berkali-kali dalam setahun.
2. Adanya bau mulut/ nafas tidak sedap yang tidak hilang akibat tonsilitis kronis yang tidak membaik dengan terapi obat.
3. Tonsilitis kronis atau berulang oleh bakteri streptokokus yang sudah resisten terhadap antibiotika.
4. Adanya pembesaran tonsil satu sisi yang dicurigai bersifat neoplastik ( tumor/ganas).

Dari 2 kelompok tersebut, kriteria absolut bersifat subjektif karena didasari oleh kondisi yang dirasakan sendiri oleh pasien dan penilaian orangtua pasien.



Semoga bermanfaat

 
kirim komentar anda melalui emai disini

Baca Juga Yang Lainnya Tentang :

Kata Mereka